9 Agustus 2014

Sebuah rasa siapa yang mengira



Hai, Hi.. kesempatan ini rasanya pengen nulis yang baru lagi. Mencoba menulis cerita mungkin bukan artikel, cerpen juga bukan novel apalagi. Lihat saja isi tulisan ini, mungkin hanya sebagai penghibur lara. Mulai saja deh.. Opps.. lupa maaf kalau ceritanya tak sebagus karangan Tere Liye ataupun se-sastra Andrea Hirata :)

Siapa Mengira …

Gadis kecil itu terus saja menunggu. Menunggu kepastian itu datang dan berharap semua sesak rindu dihatinya bisa ia lepaskan. Pertemuan antara dia dengan sesosok laki-laki yang tak pernah terpikir olehnya. Mungkin baginya ini yang pertama. Gadis kecil lugu dan polos yang mengenal dunia luar dan tak pernah sekalipun membuka hatinya sampai akhirnya ia bertemu dengan laki-laki yang bisa membuatnya tertawa dan tersenyum bahagia. Kehidupannya yang rumit, sifatnya yang pendiam dan keras kepalanya membuat gadis ini hanya bisa menyimpan sendiri setiap kerumitan hidupnya. 

Pertemuan tak teduganya dengan laki-laki yang memiliki kesamaan impian, yang bisa memberinya semangat untuk meraih mimpi-mimpi yang diukir si gadis kecil. Setiap pertemuan-pertemuan yang mereka lakukan selalu menyisakan kenangan yang terus diukir menciptakan memori yang tetap dikenang. Tak bisa dipungkiri banyak hal yang sering dilakukan bersama menciptakan pula anugerah perasaan yang tak pernah dikira bagi si gadis kecil. Ia tak pernah memikirkan sebelumnya, sering ia mengabaikannya dan semakin besar pula rasa sayang yang ia pendam. 

Sampai suatu malam, sang gadis kecilpun berani beradu dengan dirnya sendiri, beradu dengan pikiran dan perasaanya sampai ia menemukan sebuah jawaban yang tak bisa ia ungkapkan. Ia hanya menangis tak tahu apa yang harus dilakukan, kedekatannya yang semakin dekat layaknya sahabat membuatnya semakin ragu dengan apa yang ia rasakan.  

Perlahan dengan pasti, dia berusaha untuk bersikap biasa dan berusaha melupakan semua hal yang ia punya. Bertopeng dihadapannya tentang sebuah perasaan karena tak cukup keberanian dalam dirinya bahwa ia menyayangi lebih dari sekadar seorang sahabat. Karena Atas nama seorang wanita  dia masih berdiri tegar menanti dan dia masih menyisakan harapan, berdoa untuk dirinya dan entah sampai kapan ia akan  terus berusaha dan berusaha melupakan sampai ia tak sanggup lagi untuk melakukannya. ~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar